30 January 2016

Pertemuan...
adalah hal yang selalu dicari dua jiwa yang tengah dilanda kerinduan.
namun apa jadinya bila ternyata rindu sudah membeku? karna ia terlalu lama berdiam diri.
entahlah...rindu sudah terlalu rindu.

27 August 2015

Charity Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia?

Rabu, 26 Agustus 2015.
siang itu sekitar pukul 14.00 WIB aku lagi dampingin temen Thailand ambil sample penelitian di Kebun Bibit Manyar Surabaya. nggak lama dari aku sama si Kunchali ini keliling taman, aku didatengi sama koko-koko.
“kak, lagi ngapain?”
“ini ko lagi nemeni temen penelitian. ada apa ya?”
“gini, kenalin namaku (lupa dah). aku anak Fakultas Ilmu Komunikasi di Ubaya. kakak tau Ubaya? itu loh kak yang kampusnya di Tenggilis. *mau ngomong lagi…”
“OH IYA tau kok ko Ubaya. kenapa emange?”
“kakak tau black canyon?”
“hah? ……. *mikir sampe pusing aku pikir black canyon itu semacam Green Canyon di Jawa Barat*"
“itu loh kak coffe shop di mall semacam starbucks, kakak ke mall mana aja sih ngga tau black canyon? (((zzzzzz entahlah dia ngomong panjang lebar)))”
“OHIYAIYA……nggak tau ko, aku jarang pergi nongkrong. kalo mall yo semuae wes perna tp masa iya aku inget isie apa. kenapa ?”
“ini kak, jadi aku mau nawarin voucher black canyon, dll, atau kakak bisa dapet voucher perawatan disini. banyak kan kak. ini lagi, kakak kan muslim ya, bisa makan disini. ini ayam kok kak”
“hm iyaiya tau kok itu gambar ayam. tapi aku nggak makan ayam ko"

oke cukup. itu adalah basa-basi yang basi banget.
pas disitu aku mikir, korelasinya dia ngomong dia kuliah di Ubaya sama black canyon apaan?
aku udah tau modus yang beginian sebelumnya.
jadi dia ini iming-iming voucher ini itu dalam sebuah buku kecil. aku sama sekali nggak tertarik sama voucher-voucher yang ada di buku itu maupun buku-buku sebelumnya yang aku beli.
buku kali ini bercover anak-anak dan mengatasnamakan Yayasan Sentuhan Kasih Anak Indonesia. kalau sama yang beginian, kadang hati kita emang lemah banget, bener-bener euh kesentuh.
setelah si koko tadi panjang lebar ngomong, dia ngomong lagi, “kakak cuma perlu nyumbang Rp. 100.000 buat membantu mereka, anak-anak di YSKAI ini kak.”
“gini ko, aku wes pernah kok dapet ginian. dari yayasane lupus, apalah ada pokoke sampe lupa aku.”
“oh beda kak, kita dari YSKAI”
“bedanya apa? kan sama-sama donasi seh. gini wes, aku mau nyumbang, tapi buat mereka. bukan buat kamu ambe percetakan sing buat bukue. uang ini aku kasih buat mereka, aku nggak minat lo sama voucher-voucher e. ini buat mereka, aku nggak tau bakalan sampe atau enggak. tapi Tuhan sing tau ya ko."
gitu singkatnya akhir pembicaraan kita.

aku dan kalian yang pernah dapet buku beginian pasti nggak tau ini bener atau cuma sekedar penipuan yang mengatasnamakan YSKAI atau yayasan lain semacamnya. yang jelas, kita semua yang pernah beli buku beginian pasti kasian sama anak-anak penyandang kanker disana.
padahal dulu pas awal-awal dapet didatengin sama yg beginian aku selalu bilang sama temenku, “ngapain sih? mending kasih aja langsung sama orang yang membutuhkan. itu sumbangan kok malah minta-minta. maksa lagi”
tapi lambat laun, hati ini luluh juga. mikir, aku pernah punya sepupu masih kecil penyandang kanker darah. mikir, kapan lagi aku bisa bantu mereka anak-anak yayasan? kapan lagi aku bisa memberi mereka yang membutuhkan ketika lagi berlebih? nggak ada salahnya kok bantu orang.
entah itu bakalan sampai atau enggak pada mereka yang membutuhkan, kita nggak pernah tau. yang kita perlu tau, ketika kita berdoa buat mereka, doa itu bakalan sampai.
dan lagi, aku yakin yayasan-yayasan yang berdiri untuk anak-anak yang berkekurangan nggak bakalan meminta donasi dengan cara begini. mereka pasti akan nunggu donatur untuk datang sendiri. kalaupun memang sedang membutuhkan, pasti ada cara yang lebih terhormat.
aku rasa ini sudah cukup. mungkin aku bakalan balik ke hilda yang awal. yang keras minta ampun sama hal beginian. bukan dasar pelit ketika sedang berlebih, tp dengan dalih: aku ingin apa yang aku punya bermafaat buat orang yang benar-benar membutuhkan.
dan buat koko-koko kemarin, maaf ya kalo omonganku pedes banget.


****

Updated April, 7 2017

dua minggu kemarin, aku sama bapak lagi makan di daerah balaikota surabaya.
baru juga turun dari mobil dan masuk ke tempat makan, ngga lama setelah duduk, makanan belum datang juga, udah ada mbak-mbak yang nyamperin sama ngenalin diri.
awalnya dia cuma minta waktu, aku kira dia cuma mahasiswa yang mau minta isi kuisioner atau apalah.
then, dipersilahkanlah dia duduk sama bapaku itu.
modusnya sih sama, awalnya ngasih iming-iming voucher discount di beberapa gerai.  dan ngga konsistennya, dia di awal udah bilang kalo dia dari pihak advertising buku voucher itu. ngga luck dia ngomong kaya gitu terus ujungnya minta dibeli. ngga aku peduliin sama sekalilah dianya.
sama bapaku ditanggepin lama banget dan ditanya-tanyain sampe mbaknya ngga bisa jawab.
dari yayasan mana?
berapa emang jumlah anak-anak yang yayasan itu tangani?
kenapa sampe ada hubungannya sama voucher discount?
kalo dia emang beneran dari pihak advertising, aku rasa sih dia ngga akan segitunya. ujungnya sih tetep aja si bapak pelit ngga mau kasih ini mbak-mbak duit karna mungkin dirasa semua jawabannya ngga logis.
ngga tau sih coy ini beneran apa enggak,
cuma, anak-anak terlantar harusnya dilindungi negara. kalo emang modus kaya gini, aku pikir anak-anak yang beneran terlantar udah dinodai haknya sama mereka-mereka yang mengatas-namakan anak-anak terlantar buat kepentingan mereka cari duit. buat kebutuhan primadi mereka.
intinya aku nggak percaya sama mbak-mbak atau mas-mas yang suka datengin orang-orang dan minta buat beli voucher yang mereka bawa cuma dengan uang 100ribu atau 50ribuan.
emang, duit segitu ngga akan berat dikeluarin kalo buat mereka-mereka yang beneran lebih membutuhkan dari kita. tapi menurutku mending dipikir lebih lanjut lah kalau mau beli beginian. jangan sampe tergiur rayuan mereka.
karna apa?
di sekitar kita sebenernya banyak banget bangeeeet yang jauh dan jauh lebih nyata kalo mereka itu butuh uluran tangan kita.
contohnya aja, pasti palian pernah sekali duakali ketemu anak-anak yang yatim/piatu. menurutku mereka lebih pantas kalian bantu.
namun ada beberapa pengecualian buat aku dan beberapa orang di sekitarku.
pernahkah kalian ketemu anak-anak kecil yang dimana dia usia-usia harusnya sekolah, tapi pagi-pagi atau siang dia ngemis di jalan raya? jualan koran di persimpangan jalan? modal kemocing dan bersiin kaca mobil kalian di lampu merah?
anak-anak yang seperti ini...mau jadi apa mereka? kenapa mereka ngga sekolah?
padahal sekolah nggak bayar.
tapi iya sih, memang. walaupun sekolah tidak berbayar, tetep mereka akan disuruh beli seragam ataupun buku.
anak-anak yang seperti inilah yang harusnya patut kita kasihani.
mereka adalah harapan bangsa dan negara kita. tapi betapa banyak pula mereka yang menjadi harapan keluarga agar terpenuhi kebutuhan hidupnya.
namun seharusnya bukan dengan cara seperti itu.
disini aku menulis karna saat ini aku nggak bisa melakukan apa-apa. cuma bisa mikir dan bertanya-tanya pada diri sendiri dan dunia. that's why aku menuangkan segala pertanyaan-pertanyaan tentang mereka.  berharap mungkin suatu hari nanti akan ada yang baca dan merekapun menyadari bahwa lebih banyak anak-anak (beneran) yang seharusnya mereka bantu daripada mbak-mbak dengan voucher discount.
ataukah suatu hari nanti aku akan membaca post ini lagi ketika aku rasa diri ini sudah mampu melakukan usaha untuk mereka dan mendorongku untuk bergerak.

06 August 2015

"Apakah kamu tidak malu meminta terus menerus, sedangkan Allah tahu apa yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan."
Begitulah inti dari ceramah agama di salah satu channel TV sore itu, ketika aku sedang jenuh-jenuhnya dengan tugas besar UAS. 
Ya, benar. selama ini aku hanya bisa meminta. terus menerus meminta kekuatan untuk menjalani kehidupan dan menangani segala rintangan yang ada. terus menerus meminta pertolongan ketika aku sudah tidak sanggup berjalan sendiri di muka bumi ini. meminta untuk hal-hal yang selalu aku inginkan.
meminta untuk lebih disabarkan, tapi ketika dihadapkan dengan ujianNya, aku masih mengeluh.
meminta untuk dihargai, tapi terkadang aku masih lalai dalam menghargai orang lain.
meminta untuk lebih ikhlas, tapi ketika Allah tidak me-iya-kan keinginanku, aku masih marah...
aku terlalu banyak meminta.

16 May 2015

kita tidak akan tahu tentang apa dan siapa yang menjadi jawaban atas segala doa kita.

22 March 2015

abis baca postingan di bawah-bawah sampe yang beberapa taun silam, kesannya konyol, dodol, teler, kaya orang ngelawak tapi nggak lucu banget padahal nggak ngelawak sama sekali. ternyata masih begini sampe sekarang.....
ya semoga akan segera ada perubahan. Amin!

08 February 2015

ada yang tidak pernah salah.
sebut saja ia kejujuran.
karena kejujuran tidak pernah merugikan siapapun, atau apapun.
sekarang, atau nanti.

02 January 2015

pohon

saat usia kita mulai menua, ada beberapa alasan dari keputusan kita yang tidak dimengerti oleh dunia.
hai dunia, hidup kita ini seperti pohon.
semakin bertumbuh, semakin kencang angin yang menerpa, semakin kuat dan semakin banyak cabang yang tumbuh.
banyaknya cabang menandakan semakin banyak pilihan dan tujuan hidup yang akan kita tempuh.
bukankah semua orang harus menyadari itu? bahwa kita hidup tidak hanya berdiri dan begitu-begitu saja?

03 December 2014

20

Usia 20an adalah masa transisi, dimana setiap manusia mulai bermetamorfosis.
Usia 20an adalah masa dimana setiap manusia mulai berpikir sesuai jalan pikirannya, dan sesuai dengan apa yang ia mau. ya, hanya berpikir. walaupun kadangkala takdir tak seiring dengan kemauan.
menurutku, belajar menghargai pemikiran orang adalah hal yang sangat-sangat perlu diterapkan di kehidupan ini. terutama di Indonesia. berkaca pada budaya individual di negara barat yang terkesan cuek, kadang aku miris semiris-mirisnya manusia. ya, mereka memang menganut paham liberal, sedangkan kita hidup di negara yang bertolak belakang dengan budaya mereka. serba salah punya pemikiran kaya gini emang.
ironis, saat melihat beberapa temanku yang menolak mentah-mentah beberapa pernyataan yang ku lontarkan mengenai apa yang ingin aku lakukan untuk kedepan. mereka menertawakanku, menganggap semua yang aku pikir adalah hal yang sia-sia. mereka mengatakan aku terlalu banyak membaca tanpa belajar dari kehidupan orang-orang yang jelas dan nyata. mereka mengatakan aku memiliki cita-cita terlalu muluk. padahal, sebenarnya mereka mengatakan hal yang salah. kurasa, aku memang tidak perlu mengatakan darimana asal muasal pemikiranku serta beberapa planku kepada mereka. sangat tidak perlu. inilah alasan kenapa mereka menertawakanku. karna mereka nggak tau. dan sebenernya nggak perlu tau.
aku yakiiiin, ngga ada manusia yang seneng banget dikritik, apalagi diketawain pendapat serta buah pemikirannya. termasuk kalian-kalian. menurutku, nggak ada yang salah dengan cara berpikir setiap manusia. semua punya cara berbeda-beda, punya kehidupan berbeda-beda, that's why cara berpikir kita berbeda.
belajar menghargai pemikiran orang lain, itu perlu. itu artinya kita open minded, dan bisa menerima perbedaan. nggak semena-mena dan menjunjung tinggi arogansi individu. penting banget untuk bisa open minded. tentang bagaimana kita melihat suatu titik dari titik-titik yang berbeda.

07 July 2014

Kritik Buat Aparat Keamanan

Sudah 2 hari terakhir ini aku mendengar kabar yang buruk, walaupun tidak asing di telinga. Dua hari lalu, teman kuliahku mendapati musibah yang menurut orang-orang disana, ITU HAL BIASA ketika menjelang lebaran. bagiku? itu melewati batas nalarku, teman-teman.
Ia,temanku, mengalami sebuah perampokan motor paksa hingga tangannya mengalami luka bacok & dioperasi. samapi saat ini aku belum mengetahui kondisinya secara langsung karna sedang diluar kota. Informasi yang kudapat beberapa saat setelah kejadian itu, Ia berada tidak jauh dari pusat & keramaian kota di pagi hari. Fyi, aku kuliah di kota surabaya. mungkin hal seperti ini memang tidak asing ditelinga, tapi karena ini temanku, maka aku menganggapnya ini benar-benar keji, bagaimana bisa mereka(perampok) itu melakukan kejahatan di bulan puasa? di bulan ramadhan? ketika orang berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan & meningkatkan amalan ibadahnya masing-masing.
sekarang, aku membaca info di twitter, dini hari ini, sekitaran 01.25, terjadi hal serupa pada mahasiswa kampus seberang. namun berbeda lokasi, kejadian yag ini di daerah kampus yang lumayan sepi.
aku tidak tahu, benar-benar pertanyaan besar. yang kutahu, penjahat itu tidak kenal siapa-siapa kecuali harta & semua yang bersifat keduniawian. mau kamu naik mobil, mau kamu naik motor, mau kamu jalan kaki, mau kamu dibonceng, mau kamu naik becak....
atau mau kamu tua, muda, laki, perempuan, anak-anak...
tajir, kurang berada...
mereka tidak mengenal itu.
kita sebagai individu bener-bener harus hati-hati & berdoa agar selalu dalam perlindunganNya.
dan lagi, kejadian seperti ini selalu terjadi setiap tahunnya. aku sih mengharapkan semua aparat keamanan dapat bekerja lebih dini, ketika semua belum terjadi.
jangan menjadi aparat yang care when it's too late. karena banyak sekali orang-orang diluar sana yang bener-bener butuh keamanan ekstra.

kritik untuk aparat keamanan
pesan untuk pengendara kendaraan bermotor
- 2014

04 July 2014

Kampung Kue Surabaya

sebagai penulis blog yang tidak terlalu penting, apa salahnya nulis yang penting sesekali, memberikan informasi untuk sesama.
Tulisan ini merupakan wujud dari sebuah tugas besar UAS metode riset arsitektur, tapi lebih semangat nulis di blog daripada ngetik makalahnya.
***
Apa kalian tahu ada sebuah Kampung Kue di kota Surabaya? tidak? sama. tapi kita semua sekarang harus tahu.
Kampung Kue yang akan saya bahas disini terletak di Jalan Kali Rungkut RT II RW V. Kampung kue ini merupakan asosiasi ibu-ibu di Jl. Kalirungkut, ibu-ibu penduduk setempat mendirikan sebuah kesekretariatan yang letaknya di depan gang, hanya berjarak beberapa meter setelah gerbang gang kampung kue. tidak jelas kapan berdirinya, namun ada beberapa penduduk yang beropini bahwa kampung mereka mulai dijuluki kampugn kue sekitar tahun 2002. saat itu, saya mendatangi rumah Ibu Sarmi dan bapak Pur, sepasang suami-istri yang pekerjaannya membuat onde-onde dan kue pukis. 
kemudian saya bertanya, bagaimana bisa terbentuk kampung kue ini?
berceritalah Bp. Pur kepada kami, "..pada tahun 2002, saya membuat onde-onde untuk dijual, pada saat itu penduduk setempat belum banyak yang membuat kue. tidak lama setelah itu, setelah saya berjualan onde-onde & memulai usaha ini, penduduk sekitat mulai bermunculan, entah itu membuat kue basah ataupun kering"
FYI, di kampung kue ini, setiap rumah membuat kue yang berbeda-beda. misalnya ibu sarmi & bp.pur membuat onde-onde, tetangganya membuat kue lemper, ada yang kue nastar. jadi jika ingin memesan kue, tapi tidak tahu kepada siapa akan memesan, tanyakan saja kepada penduduk, pasti akan terjawab: aku harus kemana& kepada siapa
penduduk disini bekerja tidak kenal waktu. Ibu Sarmi & Bp. Pur bekerja membaut onde-onde dimulai pukul 1 AM sampai sore, kadang juga sampai jam 8 malam. sewaktu saya mendatangi rumah mereka untuk survey, mereka sedang menggoreng onde-onde karena jam 2 siang akan diambil oleh pemesannya. oleh karena kami datang pada jam 1 siang, kami membantu ibu sarmi & bapak pur. 4 pasang tangan bekerja, tapi jam 2 juga belum selesai...
Info yang paling penting: Penduduk yang membuat kue untuk dijual ini sudah terjamin kebersihannya. minyak goreng yang digunakan juga bersih, bukan minyak bekas berkali-kali menggoreng.
memakai tepung yang sudah memiliki nama, sehingga, kampung kue ini sendiri juga disponsori oleh brand Bogasari. selain itu, penduduk disini juga sering diundang ke pabrik pembuat coklat/tepung terigu untuk demo memasak disana.
oh ya, penduduk disini selain menerima pesanan, merekalah pembuat kue-kue yang dijual pedagang asongan di terminal & warung-warung maupun pasar kue di pasar kembang.